Belajar Seumur Hidup


Subscribe:

My Blog List

Text Widget

Jumat, 16 Maret 2012

Kecerdasan Finansial

Kecerdasan finansial (FQ = Financial Quotient) baru muncul dalam kurun waktu terakhir ini saja. Apakah FQ itu? Bagaimana mengukur kecerdasan finansial orang? Atau, adakah orang yang tidak memiliki kecerdasan finansial?

FQ ditujukan kepada bagaimana kita (individu atau kelompok) mencari, menggunakan, dan mengembangkan ‘harta benda’. Harta benda ini bersumber dari keberadaan UANG sebagai alat tukarnya. Makin banyak jumlah uang yang dapat diperoleh makin tinggi kecerdasan finansialnya. Seseorang yang mampun mendapatkan uang 300 ribu per bulan tentu kalah cerdas secara finansial dibandingkan dengan orang lain yang mampu memperoleh uang 3 juta per bulannya. Orang yang mampu mendapatkan 3 juta juga masih kalah dengan orang lain yang memapu mendapatkan uang 300 juta, demikian seterusnya. Banyak kita temukan di masyarakat orang-orang yang tidak cerdas secara finansial yang ditunjukkan dengan kemiskinan di setiap pelosok kota atau desa.

Mungkinkah ada orang yang tidak memiliki kecerdasan finansial? Rasanya tidak ada! Hanya tingkat kecerdasan finansialnya yang tidak tinggi. Cerdas finansial tidak harus dari hasil kerja mandiri (sebagai entrepreneur), namun bisa juga dari hasil bekerja secara profesional dengan pihak lain (sebagai intrapreneur). Karyawan dengan gaji 3 juta per bulan dianggap sepadan dengan kecerdasan dan kontribusi dia kepada perusahaan, demikian juga karyawan lain yang hanya mendapat 600 ribu per bulan pun sepadan dengan kontribusinya juga. Seorang entrepreneur yang mampu menghasilkan omset penjualan 300 juta per bulan pastilah sepadan dengan kecerdasan finansial yang dimilikinya, begitu juga dengan entrepreneur lain yang hanya mampu mencapai omset 10 juta per bulan. Kunci utama untuk menjadi cerdas secara finansial adalah kepada bagaimana pola keseimbangan antara begaimana mendapatkan (inflow) dan menggunakan (outflow).

Formula umum yang sering digunakan adalah 10:10:80. Bagian pertama (10%) adalah prosentase yang dialokasikan untuk tabungan akhirat dengan cara memberi sedekah, sumbangan ke panti asuhan, masjid dan sebagainya dengan harapan bisa mendapat balasan yang lebih besar dari Yang Maha Kuasa. Bagian kedua (10%) dialokasikan untuk investasi dunia dengan cara terus menanamkan modal guna pengembangan usaha berikutnya (bisa dengan tabungan di bank, pembelian saham, atau bentuk investasi lainnya yang sehat dan wajar). Sedangkan, bagian ketiga (80%) digunakan untuk aktivitas itu sendiri, baik sebagai biaya operasional, pemeliharaan, dan kegiatan lainnya.

Formulasi ini dianggap yang paling minimal untuk tetap menjadi cerdas secara finansial. Bagaimana prakteknya? Cobalah untuk mengalokasikan dana yang diperoleh untuk kegiatan tersebut di atas, buka untuk hal-hal yang tidak berguna.

Siapkan 10% untuk ditabungkan demi akhirat anda, sedekah yang diberikan sungguh akan kembali dalam bentuk tambahan rejeki yang berlimpah untuk kita, bagian jariah yang diberikan untuk masjid akan kembali kepada kita juga, dan seterusnya.

Siapkan yang 10% lagi untuk investasi dunia, perluasan bisnis, ekspansi dan eksplorasi ladang bisnis yang lebih menantang atau prospektif, semuanya akan kembali dlam bentuk yang berlipat ganda jumlahnya.
Sisanya yang 80% digunakan untuk keseharian yang tidak mubazir, tidak berguna atau bahkan foya-foya. Semua digunakan untuk kegiatan positif yang dapat lebih memperkaya intelektual, spiritual, dan emosional kita.

0 komentar:

Poskan Komentar

footer widget

Poll

Hadits

Udlubul ilma mahdi illal lahdi,

Connect With Us

Kota Prabumulih

Kota Prabumulih merupakan pemekaran wilayah Rambang Kapak Tengah I dan II. Adapun wilayah Lubai suku I dan II semula masuk wilayah kewedaaan ini, dilepas...

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

Sponsor

Blogger news

Blogroll

footer widget

Blogger templates

Perantau di Perantauan

Blog ini dikelola seorang perantau Lubai di perantauan kota Bandar Lampung

Pautan blogku...

Bimbel Online...

Amar`lubai "Kajian Belajar"

Jumat, 16 Maret 2012

Kecerdasan Finansial

Kecerdasan finansial (FQ = Financial Quotient) baru muncul dalam kurun waktu terakhir ini saja. Apakah FQ itu? Bagaimana mengukur kecerdasan finansial orang? Atau, adakah orang yang tidak memiliki kecerdasan finansial?

FQ ditujukan kepada bagaimana kita (individu atau kelompok) mencari, menggunakan, dan mengembangkan ‘harta benda’. Harta benda ini bersumber dari keberadaan UANG sebagai alat tukarnya. Makin banyak jumlah uang yang dapat diperoleh makin tinggi kecerdasan finansialnya. Seseorang yang mampun mendapatkan uang 300 ribu per bulan tentu kalah cerdas secara finansial dibandingkan dengan orang lain yang mampu memperoleh uang 3 juta per bulannya. Orang yang mampu mendapatkan 3 juta juga masih kalah dengan orang lain yang memapu mendapatkan uang 300 juta, demikian seterusnya. Banyak kita temukan di masyarakat orang-orang yang tidak cerdas secara finansial yang ditunjukkan dengan kemiskinan di setiap pelosok kota atau desa.

Mungkinkah ada orang yang tidak memiliki kecerdasan finansial? Rasanya tidak ada! Hanya tingkat kecerdasan finansialnya yang tidak tinggi. Cerdas finansial tidak harus dari hasil kerja mandiri (sebagai entrepreneur), namun bisa juga dari hasil bekerja secara profesional dengan pihak lain (sebagai intrapreneur). Karyawan dengan gaji 3 juta per bulan dianggap sepadan dengan kecerdasan dan kontribusi dia kepada perusahaan, demikian juga karyawan lain yang hanya mendapat 600 ribu per bulan pun sepadan dengan kontribusinya juga. Seorang entrepreneur yang mampu menghasilkan omset penjualan 300 juta per bulan pastilah sepadan dengan kecerdasan finansial yang dimilikinya, begitu juga dengan entrepreneur lain yang hanya mampu mencapai omset 10 juta per bulan. Kunci utama untuk menjadi cerdas secara finansial adalah kepada bagaimana pola keseimbangan antara begaimana mendapatkan (inflow) dan menggunakan (outflow).

Formula umum yang sering digunakan adalah 10:10:80. Bagian pertama (10%) adalah prosentase yang dialokasikan untuk tabungan akhirat dengan cara memberi sedekah, sumbangan ke panti asuhan, masjid dan sebagainya dengan harapan bisa mendapat balasan yang lebih besar dari Yang Maha Kuasa. Bagian kedua (10%) dialokasikan untuk investasi dunia dengan cara terus menanamkan modal guna pengembangan usaha berikutnya (bisa dengan tabungan di bank, pembelian saham, atau bentuk investasi lainnya yang sehat dan wajar). Sedangkan, bagian ketiga (80%) digunakan untuk aktivitas itu sendiri, baik sebagai biaya operasional, pemeliharaan, dan kegiatan lainnya.

Formulasi ini dianggap yang paling minimal untuk tetap menjadi cerdas secara finansial. Bagaimana prakteknya? Cobalah untuk mengalokasikan dana yang diperoleh untuk kegiatan tersebut di atas, buka untuk hal-hal yang tidak berguna.

Siapkan 10% untuk ditabungkan demi akhirat anda, sedekah yang diberikan sungguh akan kembali dalam bentuk tambahan rejeki yang berlimpah untuk kita, bagian jariah yang diberikan untuk masjid akan kembali kepada kita juga, dan seterusnya.

Siapkan yang 10% lagi untuk investasi dunia, perluasan bisnis, ekspansi dan eksplorasi ladang bisnis yang lebih menantang atau prospektif, semuanya akan kembali dlam bentuk yang berlipat ganda jumlahnya.
Sisanya yang 80% digunakan untuk keseharian yang tidak mubazir, tidak berguna atau bahkan foya-foya. Semua digunakan untuk kegiatan positif yang dapat lebih memperkaya intelektual, spiritual, dan emosional kita.

0 komentar:

Poskan Komentar